*KAB. BANDUNG, MPNews* – Di balik rindangnya Gunung Lalakon, tepatnya di Kampung Badaraksa, Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, tersimpan sebuah situs bersejarah yang mulai dilirik warga dan komunitas sejarah. Namanya “Situs Batu Pa lawangan”.
Batu Palawangan berarti “batu pintu gerbang”. Bentuknya berupa tumpukan batu besar yang menyerupai gapura. Menurut penelusur sejarah dan cerita warga, situs ini diduga peninggalan “zaman megalitikum atau prasejarah”.
Fungsinya masih menjadi perdebatan. Ada yang menyebut sebagai tempat ritual masyarakat kuno, penanda wilayah atau gerbang spiritual menuju puncak Lalakon, hingga tempat pertapaan.
Untuk sampai ke lokasi, pengunjung harus menempuh jalur pendakian Gunung Lalakon. Dari titik awal di Kampung Batu Gajah/Jelegong, perjalanan kaki memakan waktu sekitar 1-2 jam.
Keunikan yang Membuat Ramai
Selain nilai sejarahnya, Batu Palawangan juga menawarkan pemandangan Bandung Selatan yang luas. Area ini sering dijadikan spot foto, napak tilas, hingga semedi. Warga sekitar juga meyakini Gunung Lalakon dan Batu Pa lawangan sebagai tempat yang disakralkan. Bahkan ada cerita rakyat yang mengaitkannya dengan perjalanan Prabu Siliwangi.
Ketua Tokoh Pemuda Desa Jelegong, H. Dian Farid, S.H., mendorong situs ini dijaga dan dikenalkan ke publik dengan cara yang bertanggung jawab.
“Situs Batu Pa lawangan ini aset budaya kita. Ini bukan hanya batu, tapi jejak peradaban leluhur yang ada di Gunung Lalakon. Kita sebagai pemuda punya tugas melestarikan, bukan merusak,” kata Dian Farid.
“Kami mengajak adik-adik Karang Taruna dan komunitas untuk mengenalkan Batu Pa lawangan lewat kegiatan positif. Seperti saat HUT RI nanti, kita rencanakan estafet pengibaran bendera 10×5 meter sampai puncak Lalakon. Lewat kegiatan itu, orang jadi tahu ada situs bersejarah di sini,” lanjutnya.
Ia juga berpesan bagi yang ingin berkunjung agar menggunakan pemandu lokal, membawa logistik lengkap, dan menjaga etika.
“Tempat ini sakral bagi warga. Jangan corat-coret, jangan buang sampah, dan pamit dulu ke warga. Datang pagi jam 6-10 itu paling pas,” tegasnya.
Hingga kini belum ada penelitian arkeologi resmi dari BPCB terkait situs ini. Namun antusiasme warga untuk merawat dan memperkenalkan Batu Pa lawangan terus tumbuh.
Situs Batu Pa lawangan kini menjadi perpaduan wisata alam, sejarah, dan spiritual. Cocok bagi pecinta hiking dan budaya.
_Tim Liputan: Linggaraja /Dani.RS_

