KAB. BANDUNG, MPNews – Gunung Lalakon di perbatasan Kecamatan Kutawaringin dan Margaasih, Kabupaten Bandung, bukan sekadar destinasi pendakian. Di balik ketinggiannya, tersimpan jejak sejarah, spiritualitas, dan cerita rakyat yang sudah berlangsung ratusan tahun.
Salah satu titik yang paling menarik perhatian adalah Situs Batu Pa lawangan di kawasan Kampung Bada raksa, Desa Jelegong. Batu besar yang tersusun menyerupai gerbang ini diduga peninggalan zaman megalitikum dan menjadi penanda spiritual menuju puncak.
Asal-usul Nama “Lalakon”
Pertanyaan yang sering muncul: siapa yang memberi nama dan kenapa disebut Gunung Lalakon?
Hingga kini belum ada prasasti resmi. Namun menurut cerita para sesepuh dan tokoh masyarakat setempat, nama “Lalakon” berasal dari bahasa Sunda “nga lalakon” yang berarti _perjalanan hidup, ber tirakat, atau lakon_.
Ketua Tokoh Pemuda Desa Jelegong, H. Dian Farid, S.H., menjelaskan makna nama tersebut.
“Gunung Lalakon disebut Lalakon karena dari dulu tempat ini dipakai orang untuk menghalalkan. Dulu para leluhur, bahkan ada cerita terkait Prabu Siliwangi, bertapa dan mencari ketenangan di sini. Jadi ini gunung tempat terjadinya lakon, tempat orang menempuh perjalanan spiritual,” ujar Dian Farid.
“Nama Lalakon sudah ada sejak zaman dulu. Di cerita warga turun-temurun, gunung ini sakral. Makanya ada Batu Pa lawangan, Batu Kursi, dan situs lain. Semua itu bagian dari sejarah kita yang harus dijaga pemuda,” lanjutnya.
Versi lain menyebut “Lalakon” karena gunung ini menjadi saksi banyak peristiwa atau “lakon” dalam sejarah Sunda, sehingga oleh masyarakat dinamakan demikian.
Batu Pa lawangan dan Potensinya
Batu Pa lawangan sendiri diartikan sebagai “pintu gerbang”. Lokasinya bisa ditempuh 1-2 jam pendakian dari Desa Jelegong. Selain nilai sejarahnya, tempat ini juga menyuguhkan pemandangan Bandung Selatan dan sering dijadikan lokasi napak tilas, upacara adat, hingga kegiatan kepemudaan.
Salah satunya rencana pengibaran bendera 10×5 meter secara estafet oleh 1000 pemuda saat HUT ke-81 RI yang rutenya finish di puncak Lalakon.
Dian Farid mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk datang dengan cara yang bijak.
“Silakan datang, pakai pemandu lokal, jaga kebersihan, dan hormati karena ini tempat yang disakralkan warga. Mari kita lestarikan Gunung Lalakon bukan hanya sebagai tempat wisata, tapi juga sebagai warisan budaya,” tegasnya.
Dengan segala cerita dan situs di dalamnya, Gunung Lalakon kini menjadi perpaduan wisata alam, sejarah, dan spiritual yang terus dijaga oleh masyarakat Kutawaringin.*Tim Liputan.Linggaraja/Dani RS*

