KAB. BANDUNG | MPNews – Di tengah udara sejuk dataran tinggi Pangalengan, Aula Desa Warnasari hari itu terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan karena padatnya ruangan semata, melainkan oleh suasana kebersamaan yang terjalin di antara warga. Senin (15/12/2025), aula desa menjadi saksi penyaluran Bantuan Pangan periode Oktober–November 2025—sebuah peristiwa yang lebih dari sekadar pembagian beras dan minyak goreng.
Warga datang dengan langkah tertib, wajah sederhana yang menyimpan harap. Ada lansia yang dituntun perlahan, ada ibu-ibu yang saling menyapa, dan ada senyum lega ketika bantuan akhirnya diterima. Di ruangan itulah, bantuan pangan menjelma menjadi ruang perjumpaan, perhatian, dan rasa dimanusiakan.
Kepala Desa Hadir Tanpa Sekat
Penyaluran Bantuan Pangan BULOG ini dipimpin langsung oleh Kepala Desa Warnasari, Ki. Aa Sugiharto, S.IP. Ia tak sekadar berdiri memberi arahan, tetapi turun langsung ke tengah warga. Menyapa satu per satu, membantu mengangkat bantuan bagi lansia, hingga menanyakan kondisi keluarga penerima dengan nada tulus.
“Kami memilih aula desa karena ini rumah bersama. Di sini kita bukan hanya membagi bantuan, tapi menjaga rasa kekeluargaan,” ujar Ki. Aa Sugiharto dengan senyum hangat.
Gestur sederhana itu menghadirkan kedekatan. Warga merasa dilihat, didengar, dan dihargai—sebuah hal yang sering kali lebih bermakna daripada bantuan itu sendiri.
Kerja Sunyi Perangkat Desa dan Para Kadus
Di balik kelancaran kegiatan, ada kerja kolektif yang rapi dan penuh tanggung jawab. Kepanitiaan dipimpin oleh Ketua Puskesos Eti Rosmala, A.Md., didukung kader PKK, perangkat desa, para Kepala Dusun, serta pengamanan dari Bhabinkamtibmas dan Babinsa, juga unsur tokoh masyarakat.
Para Kadus menjadi garda terdepan—mengatur antrean, memastikan warga sesuai data, dan membantu mereka yang membutuhkan perhatian khusus.
“Kami diingatkan Pak Kades untuk tidak hanya melihat daftar, tapi melihat kondisi nyata warga,” ujar salah seorang Kadus. “Bantuan harus sampai ke yang benar-benar berhak.”
DTKS dan Ketepatan Sasaran
Penyaluran bantuan mengacu pada Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTKS) yang telah diverifikasi. Setiap KPM (Keluarga Penerima Manfaat) menerima 2 kemasan beras setara 20 kilogram dan 4 liter minyak goreng. Total sebanyak 1.040 KPM menerima manfaat pada penyaluran kali ini.
Angka-angka itu penting. Namun di baliknya, tersimpan harapan agar dapur tetap mengepul dan beban hidup sedikit berkurang.
Pesan Tegas: Bantuan Tanpa Potongan
Dalam sambutannya, Ki. Aa Sugiharto, S.IP. menegaskan bahwa bantuan ini merupakan program resmi pemerintah melalui BULOG dan harus diterima warga tanpa potongan apa pun.
“Jika ada oknum yang meminta atau memotong bantuan—2 kilogram, 5 kilogram, atau dengan alasan apa pun—segera laporkan. Bantuan ini murni hak warga, tanpa biaya, tanpa administrasi,” tegasnya.
Pesan itu disampaikan lugas, bukan untuk menakuti, melainkan untuk melindungi.
Suara Warga: Rasa Syukur yang Tulus
Di tengah keramaian, Teh Tita, salah satu penerima manfaat, mengungkapkan rasa syukurnya.
“Alhamdulillah, bantuan ini sangat berarti bagi keluarga kami. Terima kasih kepada Pak Kades dan semua yang sudah peduli,” ucapnya dengan mata berbinar.
Hal senada disampaikan Ibu Oom.
“Beras dan minyak ini sangat membantu kebutuhan sehari-hari kami. Terima kasih sudah memperhatikan warga kecil seperti kami,” tuturnya lirih.
Lebih dari Bantuan, Ini Tentang Kepercayaan
Penyaluran bantuan pangan di Desa Warnasari bukan sekadar soal logistik. Ia adalah tentang kehadiran negara yang terasa dekat, tentang pemerintah desa yang memilih berdiri bersama rakyatnya, dan tentang kepercayaan yang dirawat melalui kejujuran.
Di aula desa itu, beras dan minyak memang berpindah tangan. Namun yang tertinggal di hati warga adalah rasa aman—bahwa mereka tidak sendiri, dan bahwa desa masih menjadi tempat di mana kemanusiaan dijaga.
Teladan untuk Desa Lain
Apa yang terjadi di Warnasari hari itu menjadi pengingat: membangun desa bukan hanya membangun jalan dan gedung, tetapi membangun hubungan yang jujur antara pemimpin dan warganya. Ketika bantuan disalurkan dengan empati dan keberanian menjaga keadilan, desa pun tumbuh sebagai ruang yang bermartabat.
Liputan: Wanhendy
Sumber: Kepala Desa Warnasari Ki. Aa Sugiharto, S.IP. dan warga penerima manfaat
www.mitrapolisinews.com

