KAB. BANDUNG | MPNews – Rapat Koordinasi Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Pangalengan Tahun 2025 yang digelar di Aula Kantor Kecamatan menjadi ajang evaluasi besar program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam rapat tersebut, berbagai isu krusial mengemuka: mulai dari transparansi anggaran, dugaan monopoli, evaluasi kinerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), hingga kelayakan dapur MBG di Desa Margamukti yang sempat viral karena diduga menyajikan makanan basi dan berulat.
Kapolsek Pangalengan, Kompol Edi Pramana, A.Md, S.H, S.M, M.H, memastikan situasi wilayah relatif aman dan terkendali. “Kami terus lakukan langkah preventif agar masyarakat merasa tenang. Stabilitas keamanan penting agar program sosial berjalan lancar,” ujarnya, menegaskan dukungan kepolisian terhadap program MBG yang dicetuskan Presiden Prabowo Subianto sebagai upaya peningkatan sumber daya manusia (SDM) menuju Indonesia Emas 2045.
Camat Pangalengan, Vena Andriawan, S.STP, menekankan pentingnya keterbukaan dalam pelaksanaan program MBG. “SPPG harus lebih humanis dan terbuka dengan media. Transparansi bukan pilihan, tapi kewajiban,” tegasnya. Ia juga menambahkan komitmen SPPG-MBG untuk menjalin kemitraan transparan dengan insan pers dalam menjalankan tugas liputan, demi memastikan informasi yang akurat dan berimbang sampai ke masyarakat.
Koordinator SPPG mengakui adanya kelemahan dalam pengawasan program. “Kami melayani sekitar 27 ribu penerima manfaat, termasuk siswa, bumil, balita, dan kelompok rawan gizi. Tapi memang, regulasi dan kontrol lapangan masih jadi kendala,” paparnya.
Ketua KAPMI, Kang Agus Abow, menyoroti indikasi praktik monopoli dalam pengadaan MBG. “Jika UMK lokal dikesampingkan, ini bisa melanggar UU No. 5/1999. Program publik tidak boleh hanya menguntungkan segelintir pihak,” sindirnya, mendesak agar program ini lebih merata dan inklusif.
Anggota DPRD Kabupaten Bandung dari Fraksi PAN, Bapak Yadi Supriadi, menegaskan bahwa program MBG wajib melibatkan pelaku usaha kecil. “Dapur SPPG harus bermitra dengan UMK lokal. Evaluasi menyeluruh harus dilakukan agar kualitas makanan dan pengelolaan semakin baik,” katanya, menekankan pentingnya pemberdayaan ekonomi lokal.
Dukungan Danramil untuk Pengawasan
Danramil 2410 Pangalengan, Kapten ARM Tedi Sopian, juga menyatakan dukungan penuh terhadap program MBG dan siap membantu dalam pengawasan di lapangan.
Aspirasi dari Dunia Pendidikan Keluhan dan masukan datang dari berbagai sekolah:
– SMPN 2 Pangalengan: melaporkan kasus makanan basi bahkan berulat yang diterima siswa.
– SMPN 3 Pangalengan: mengeluhkan porsi makanan yang kecil dan penumpukan sampah kemasan.
– Ketua PGRI (SDN): meminta peningkatan kualitas gizi serta pengelolaan sampah yang lebih baik.
– SMA PGRI 31: mengapresiasi program MBG yang sangat membantu siswa, namun berharap ada peningkatan kualitas yang berkelanjutan.
Rapat Forkopimcam ini menghasilkan sejumlah poin tindak lanjut yang akan segera diimplementasikan, diantaranya Transparansi, SPPG diminta untuk lebih terbuka kepada publik dan media. Evaluasi Kelayakan Dapur, Seluruh dapur MBG akan ditinjau ulang, dengan fokus khusus pada dapur di Desa Margamukti. Kemitraan UMK Lokal, Dapur produksi diwajibkan untuk bermitra dengan pelaku usaha kecil setempat.
Perbaikan Kualitas Gizi, Menu dan standar higienis akan diperketat untuk mencegah terulangnya kasus makanan basi. Pengelolaan Sampah, Instansi terkait diminta mencari solusi komprehensif untuk pengolahan kemasan MBG agar tidak menumpuk di sekolah. Pengawasan Bersama, Forkopimcam, DPRD, dan masyarakat akan dilibatkan secara aktif dalam pengawasan program.
Forkopimcam berharap perbaikan ini dapat memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap program MBG. Program yang dirancang untuk mendukung generasi sehat dan cerdas ini diharapkan tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga dikelola dengan adil, transparan, dan melibatkan semua pihak.
“Program MBG adalah investasi SDM. Jika kelolaannya salah, generasi kita yang dirugikan,” tutup Camat Pangalengan, Bapak Vena Andriawan, S.STP, menekankan urgensi perbaikan demi masa depan anak bangsa.*(wanhendy)


