KAB. BANDUNG | MPNews – Banjir yang melanda kawasan Kampung Lambong RT 04 RW 14, Desa Pangalengan, kembali memunculkan kritik tajam terhadap tata ruang dan lemahnya pengawasan lingkungan di wilayah tersebut. Bencana yang terjadi bukan hanya akibat curah hujan tinggi, tetapi dipicu oleh perubahan penggunaan lahan yang berlangsung tanpa kontrol ketat.
Alih Fungsi Lahan Tak Terkendali Sebabkan Banjir Meluas
Pakar tata ruang Universitas Bandung, Dr. Indra Gumilar, menilai banjir di Lambong merupakan dampak langsung dari perubahan masif pada kawasan hulu.
“Alih fungsi lahan yang masif, terutama di bagian hulu, telah menurunkan kemampuan tanah dalam menyerap air. Drainase buruk membuat air hujan langsung meluap ke pemukiman,” jelasnya.
Tokoh masyarakat pemerhati lingkungan yang enggan disebut namanya, menekankan perlunya evaluasi tata ruang dan penegakan aturan lingkungan yang selama ini dinilai longgar.
“Tanpa pengawasan yang ketat dan penegakan hukum yang tegas, kejadian serupa akan terus berulang,” tambahnya.
Tokoh Warga Pemerhati Lingkungan Ikut Menyayangkan Kejadian Ini
Sejumlah tokoh masyarakat pemerhati lingkungan di Pangalengan turut menyayangkan banjir yang kembali menimpa warga Lambong.
“Ini seharusnya bisa dicegah. Bukan semata faktor hujan, tapi karena kurangnya pengawasan terhadap perubahan lahan. Warga yang jadi korban, sementara pelanggaran dibiarkan,” ujar salah satu tokoh warga.
Mereka meminta pemerintah hadir secara nyata, bukan hanya dengan janji penanganan, tetapi langkah teknis yang berdampak.
Kronologi Kejadian: Air Meluap Cepat, Warga Tak Sempat Menyelamatkan Barang
Banjir terjadi pada Selasa malam sekitar pukul 20.45 WIB, saat hujan deras mengguyur wilayah Pangalengan sejak sore hari. Dalam durasi kurang dari 30 menit, debit air dari aliran hulu meningkat tajam dan masuk ke kawasan permukiman padat di Lambong.
Sejumlah warga mengaku tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga karena air tiba-tiba menerjang.
“Air datang cepat sekali. Dalam hitungan menit sudah setinggi lutut orang dewasa. Kami panik, langsung membawa anak-anak keluar rumah,” ungkap Pak Arman, warga RT 04 RW 14.
Warga lainnya, Ibu Rani, mengatakan kondisi banjir kali ini terparah dalam beberapa tahun terakhir.
“Setiap hujan besar pasti banjir, tapi kali ini lebih parah. Rumah saya terendam sampai hampir setengah meter,” tuturnya.
Dampak Kerusakan & Data Awal Akibat Alih Fungsi Lahan
Berdasarkan pendataan sementara di lapangan:
17 rumah di RT 04 RW 14 mengalami kerusakan ringan hingga sedang.
5 rumah mengalami kerusakan berat akibat terjangan air dan lumpur.
42 warga terdampak langsung dan sementara mengungsi ke rumah kerabat atau posko.
Area kebun dan lahan hijau seluas ±1,8 hektare yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan sudah beralih menjadi lahan non-resapan dalam 3 tahun terakhir.
Saluran drainase utama di wilayah tersebut tertutup lumpur dan limpasan dari lahan di bagian atas bukit.
Warga menilai alih fungsi lahan yang tidak dikendalikan menjadi akar persoalan banjir. Banyak area yang sebelumnya merupakan lahan konservasi sudah berubah menjadi bangunan atau perkebunan intensif.
Warga Trauma dan Khawatir Banjir Susulan
Trauma mendalam dirasakan warga setelah peristiwa ini. Banyak dari mereka belum berani kembali ke rumah karena khawatir banjir terjadi lagi.
“Kami berharap pemerintah segera turun tangan. Jangan sampai kami hidup dalam ketakutan setiap kali mendung,” ujar Ibu Sumiati, warga terdampak.
Warga juga mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan opsi relokasi rumah yang berada di titik paling rawan.
Update Terkini
Tim SAR terus melakukan pendataan dan mengevakuasi warga lanjut usia serta anak-anak.
Posko bantuan telah didirikan untuk menampung warga terdampak.
Organisasi masyarakat, relawan, dan komunitas lingkungan mulai menyalurkan logistik dan makanan siap saji.*
Informasi lebih lanjut dan laporan lanjutan terkait perkembangan kondisi di Kampung Lambong akan terus dipublikasikan melalui www.mitrapolisinews.com.
(Wanhendy)

